Sudah dengan teh Moi, lain lagi cerita pada zaman kang Deddy Oskar atau yang biasa kita sapa dengan kang Deddy, yang merupakan ketua seksi Kajian Strategis Ilmiah (KASTIL) Senat Mahasiswa Kema PPSK FK Unpad yang dua kali menjabat, yaitu pada tahun 2010 dan 2011. So, Lets cekidot!
Kang Deddy diamanahi menjadi ketua Kastil pertama kali pada tahun 2010, sebelumnya beliau juga sudah menjadi anggota Kastil tahun 2009. Waktu beliau menjabat, ada teman-teman Kastil 2009 yang juga melanjutkan, sehingga kang Deddy mempunyai tempat untuk beradu pikiran di tahap-tahap awal. Menurut kang Deddy, waktu pertama beliau menjabat, Kastil belum mempunyai definisi yang jelas tentang kerjanya sehingga kang Deddy harus menentukan secara teknis bagaimana konsep-konsep Kastil dapat terealisasikan. Kang Deddy mengatakan bahwa beliau dulu sudah paham tentang idealisme mahasiswa, pergerakan mahasiswa, dan kaitannya dnegan gerakan sosial politik kemasyarakatan mahasiswa, tetapi beliau bingung bagaimana menerjemahkannya dalam bentuk yang konkrit. Kang Deddy pun mengaku bahwa beliau masih agak bingung dengan bagaimana kajian itu yang sebenarnya dan berbagai bentuknya. Oleh karena itu, dalam2 tahun kepengurusan beliau menjabat, beliau berusaha membaca lebih banyak,”karena berdiskusi saja tidak cukup,” ujarnya.
“Dunia kastrat itu kalau berdiskusi dengan orang-orang, terlampau variatif. Kalau ga didukung buku, bisa ga objektif.”
‘Risalah Pergerakan Mahasiswa’, ‘Dari Gerakan ke Negara’, dan ‘Saksikan Aku Seorang Muslim’ adalah termasuk buku-buku yang beliau baca untuk referensinya.
Setelah itu semua, akhirnya beliau mengetahui bagaimana tahapan untuk mencapai prinsip Kastil yang berupa “peduli”. “Tahap ‘peduli’ ini bisa lebih mudah dicapai jika kita sudah mengetahui diri sendiri (pembentukan kenal diri) ditambah dengan berinteraksi dengan banyak orang dan fenomena dari berbagai sudut pandang. Gampangnya, saya mencoba melakukan pendekatan bia buku untuk membantu pengenalan diri, karena kalau secara langsung sudah ada yang menjaga, yakni mentor,”ujarnya. Kang deddy pun mulai melakukan perbaikan kaderisasi bidang Kastrat.
Untuk merealisasikan “interaksi dengan banyak orang dan fenomena”, kang Deddy pun mengaku selalu berusaha membuat teman-teman Kastil berpartisipasi di berbagai acara-acara, terutama jika ada acara-acara dari luar FK Unpad, seperti acara ISMKI, BEM Unpad, dan lain-lain. “Itu yang menjadi alasan kenapa saya agak ‘memaksa’ teman-teman (Kastil) untuk ikut acara-acara,”akunya.
Itu secara generalnya, kalau secara spesifiknya, pada tahun 2010 itu, “Kastil itu orang-orangnya jago debat dan diskusi banget. Pokoknya jago konsep banget. Tapi sayangnya ga bisa mengtekniskan konsep kita. Ga bisa merealistikkan pikiran kita atau mengspesifikkan pikiran general kita,” aku kang Deddy.
Menurut kang Deddy, kalau mendengar dengan tentang sospolmas, biasanya yang tergambar di orang-orang itu kebijakan poltik dan isu nasional, tapi lupa tentang masyarakatnya itu sendiri. Jadi, menurut kang Deddy, yang penting adalah bermanfaat bagi masyarakat.
Kalau untuk kemahasiswaan sendiri, pada tahun kepengurusan 2010 itu, kemahasiswaan belum mempunyai tujuan jangka panjang atau visi Kema PPSK FK Unpad.
Kalau pada tahun 2011, kang Deddy menargetkan realisasi MdE (Meet d’ Expert) dan kaderisasi bidang kastrat yang tidak mati atau terus berlanjut. Dan alhamdulillah tahun 2011 ini MdE berhasil terealisasi. MdE ini adalah sebagai realisasi pemikiran bahwa FK Unpad itu harus berguna bagi masyarakat Jatinangor. Untuk aksi, menurut kangDeddy, minimal itu mencerdaskan, tapi lebih baik kalau bisa sampai mengakalkan atau membuat penerima informasi itu berpikir. “Kita ga cuma duduk melingkar, tapi juga buat acara.” Samapi sekarang ini kang Deddy sedang berpikir bagaimana kajian itu dapat melibatkan seluruh mahasiswa FK Unpad. “Mungkin bisa bikin acara kaya Universe (salaah satu divisi di DKM Asy-syifaa’ FK Unpad tentang kajian keIslaman, acaranya berupa ta’lim sebulan sekali, memaparakan hasil kajian ke-Islaman, dan mengundang pembicara) .”
“Untuk kemahasiswaan sendiri, tahun ini sedang menggodok visi jangka panjang. Seperti bidang I, lagi menggodok kurkes (kurikulum kemahasiswaan).”
Nah, PR untuk kepengurusan berikutnya adalah bagaimana kajian Kastil itu dapat melibatkan seluruh mahasiswa FK Unpad. Lalu kang Deddy juga berpesan, bahwa kaderisasi Kastil itu itu melibatkan 3 hal, yaitu konsep, diri, dan Kastrat itu sendiri. Pertama, kita harus mengenal diri kita sendiri, seperti kang Deddy yang melakukannya dengan membaca buku seperti ‘Saksikan Aku Seorang Muslim’, lalu harus mendefinisikan kita itu siapa dan mau berbuat apa. Lalu kita mengetahui konsep generalnya, melalui membaca buku juga, seperti ‘Risalah Pergerakan Mahasiswa’, dan lain-lain.
Kemudian kita harus mengerti konsep Kastrat itu, yaitu yang penting berguna bagi masyarakat. Jadi kita tidak boleh hanya duduk melingkar, tapi juga harus membuat acara-acara. Lalu, beliau berpesan bahwan anak Kastil tidak boleh ‘autis’, harus banyak terpapar dengan banyak orang dan fenomena, seperti yang sudah disinggung sebelumnya. Hal itu agar pengetahuan kita bisa bertambah lebih banyak lagi =)
Siippp, ayo GeN9z, semangaaaaat.. Lanjutkan mimpi-mimpi Kastil! Kita harus berguna bagi banyak orang, ga cuma mengembangkan diri kita sendiri, tapi juga harus mengembangkan orang lain, harus membuat orang lain sadar dan peka juga. Tapi ga cukup sampai disitu, tapi harus membuat orang lain berpikir juga.
Semangaaaat =D







0 comments:
Post a Comment