Powered by Blogger.
RSS

diary 4 - SCORE first batch!








Semangat dan solid SCORE first batch !

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Daftar tugas Preschool hari 2 SCORE


30.11.2011
Oke, PR buat hari ini adalaaah
Membuat video propaganda generasi sinergiiiiis #fkunpad unite
Dikumpulin hari minggu!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

diary3 - Preschool hari 2 SCORE =)

Preschool hari kedua, yeiiiy \(^^)/

30.11.2011

As usual, absensi dibukan jam 16.00, trus masuk kelas di a411 jam 16.16.
Kelas langsung dimulai dengan doa dan ada tadabbur dari Kang Poundra. Intinya, setiap janji itu akan dipertanggungjawabkan. Jadi, masuk ke sebuah organisasi berarti kita memberikan komitmen atau janji kita ke organisasi tersebut. Dan niscaya komitmen kita itu akan dimintai pertanggungan- jawabnya.

Nah, kemahasiswaan itu kan organisasi involunteer, ga ada kan hukuman di dalam dunia kemahasiswaan, jadi satu-satunya yang bisa dipegang dalam organisasi kemahasiswaan adalah janji, komitmen.

Jadi, materi preschool SCORE hari ini, yang pertama adalah

Seni Menggerakkan Manusia
 Materi ini disampaikan oleh Kang Harry Mahathir Akip, Ketua Senat FK Unpad yang paling lama menjabat, yaitu 1,5 tahun, tahun 2007-2008. Beliau juga merupakakan Sekwil II ISMKI pada masa itu (dahsyat bangetlah).
Jadi ketemu kang Harry lama menjabat adalah, waktu itu kan BEM FK Unpad baru dirubah menjadi Senat FK Unpad, jadi kepengurusan yang tadinya Juni-Juli, jadi Januari-Desember, jadi ada masa transisi dimana kang Harry yang mengisi kekosongan tersebut.

Oke, masuk ke materi, apa sih seni menggerakkan mahasiswa?
Setelah nanya ke peserta yang ada disana, akhirnya keluar jawabannya, yaitu seni memanage orang untuk berlaku sesuai dengan apa yang kita inspirasikan kepada mereka.
Nah, manajemen ini membutuhkan inti, yaitu kepemimpinan. Dan kepemimpinan ini juga mempunyai sebuah inti, yaitu integritas.





Jadi, untuk memanage, harus mempunyai jiwa kepemimpinan, nah jiwa kepemimpinan harus mempunyai integritas dulu.

Ada step-stepnya untuk menggerakkan manusia yang tidak bisa diloncat-loncati, yaitu
1. Impress people
“Gain people’s trust, stand on your own integrity”
Integritas itu harus dimiliki sebelum kita menjalankan kepemimpinan. Selain itu, kita juga harus disiplin.
“Disiplin pribadi mendorong tumbuh kembangnya kreativitas.”-Ki Suratman
Jadi sehebat apapun visinya, idenya, kita harus disiplin terhadap diri kita sendiri terlebih dahulu. Jika kita tidak disiplin, kita tidak akan bisa membuat orang percaya sama kita.

Ada 11 Prinsip Kepemimpinan yang diambil dari Kerajaan Majapahit dulu :
1.       Takwa
Takwa ini akan membuat integritas kita terjaga
2.       Ing Ngarsa Sung Tulada
Di depan memberi teladan. Jadi memimpin by example.
3.       Ing Madya Mangunkarsa
Di tengah membangun semangat. Jadilah manusia yang sama (tidak menganggap diri lebih tinggi atau gimana) dan memberi semangat atau motivasi.
4.       Tut Wuri Handayani
Di belakang memberi dorongan. Kalau kata kang Harry, ini dilakukan oleh orang-orang yang sudah tidak di organisasi lagi. Tapi, kalau menurut aku, ini dilakukan pemimpin dengan menjadi penyokong bagi anggota-anggotanya.
5.       Waspada Purba Wisesa
Selalu siap, selalu waspada melihat apa yang salah. Jangan membandingkan organisasi kita dengan organisasi lainnya terus, tapi kita juga harus melihat apa yang dibutuhkan di organisasi kita sendiri.
6.       Ambeg Parama Arta
Kuat, Ajeg, tahu yang mana yang menjadi prioritas.
7.       Prasaja
Sederhana. Lebih mementingkan rakyatnya, tidak ingin berbeda dengan rakyatnya. Contohnya dapat kit alihat pada Walikota Surakarta yang membuat Surakarta menjadi kota yang paling ter-manage se-Indonesia
8.       Satya
Loyal. Seorang pemimpin tidak boleh meninggalkan orang-orang yang dipimpinnya.
9.       Gema Nastiti
Hemat. Tahu prioritas anggaran.
10.   Belaka
Berani mempertanggungjawabkan keputusan yang telah dibuatnya.
11.   Legawa
Rela saat sudah harus berganti kepengurusan.

Pemimpin itu, tidak boleh tidak mengambil keputusan. Pemimpin itu lebih baik mengambil keputusan walaupun salah.
Dan semua 11 sifat diatas itu harus diterapkan secara terus menerus. Lalu kita dapat menilai diri kita sudah menjadi pemimpin yang seperti apa.
1.       Semu Mantri : pemimpin yang udah hebat, bisa yang 11 tadi
2.       Esem Bupati : manager, sudah bisa diberi amanah, tapi belum sempurna
3.       Dupak Kuli   : mandor, memimpin hanya karena jabatannya, tanpa integritas

2. Mantain the people’s performance
Ini setelah anggota tim sudah bisa mendengar kita, sudah bisa memberikan hatinya, sudah mau bekerja untuk kita.
1.       Visi à orang yang dipimpn itu butuh tujuan. Ada 2 yang menggerakkan orang, yaitu KEPENTINGAN dan KATA HATI (melalui perasaan). Sampaikan visinya dnegan baik. Tahu batasan diri kita, tapi cobalah terus untuk lebih lebar dari batas itu.
2.       “Know your men properly, so that they love to understand your command”
Ketika bertemuà CARE. Tunjukkan perhatian kita dengan pengetahuan kita tentang kehidupannya, terutama tentang keluarga mereka atau sesuatu yang mereka senangi.
3.       Lakukan evaluasi yang mandiri secara berkala dan bertingkat.
Hal ini akan sangat sulit jika kita tidak mempunyai integritas dan teman untuk mengevaluasi.

3.  Improve the people’s performance
      Pemimpin yang semu mantri, setiap habis berpidato, orang-orang akan banyak yang bertanya atau mencoba mendapat ilmu yang lebih darinya, punya suatu inspirasi bagi yang mendengarnya.
Pemimpin yang dapat menginspirasi adalah pemimpin yang mempunyai pemahaman yang menyeluruh dan menyampaikannya sebagai sebuah keyakinan.

Manusia itu seperti benda lainnya yanag terdiri dari atom-atom yang merupakan bentuk dari energi. Jadi manusia itu bisa mengtransmisikan dan mendapat energi dari manusia lainnya. Energi dapat kita transmisikan jika kita menyampaikannya dengan sungguh-sungguh dan dari hati.

Seorang pemimpin itu haru stidak pernah puas. “Stay hungry, stay foolish.”
Jadi, pemimpin itu harus bisa mengmotivasi diri sendiri secara terus menerus.
Harus bisa mengidentifikasikan dirinya ada di level yang mana.
Setiap kepengurusan itu harus mengevaluasi dirinya, mengpoint out kesalahan-kesalahan agar tidak diulangi lagi.

Trus sesi tanya jawab deh,,
1. Q : Bagaimana cara berubah jadi lebih baik?
     A : Tinggal berubah. Ketika meniatkan diri untuk menjadi lebih baik, carilah komunitas yang bisa  membuat kita terus menjadi pribadi yang baik itu.

2. Q : Bagaimana caranya agar tetap fokus di semua organisasi yang diikuti?
     A :  impress people à menjadi diri sendiri, tapi harus mempunyai integritas. Tetaplah menjadi orang yang sama. Paling harus memodifikasi hati kita sendiri, karena pasti kedua organisasi tersebut mempunyai kultur yang berbeda. Kita harus bisa mengalahkan keingiinan diri sendiri, memanage perasaan kita agar kita bisa tetap berrsikap secara profesional.

3. Q : Bagaimana cara memanage orang yang merasa ditempatkan di tempat yang salah?
     A : Yang harus dijaga adalah kepentingan dan perasaannya. Sampaikan secara signifikan mengapa dia ada disini. Jadi haru smembuat orang tersebut merasa dipentingkan. Kita harus meng-inspiring orang tersebut à harus ada di state semu mantri.
Juga bersabarlah. Hal ini menggambarkan organisasi kamu ada di state apa à untuk evaluasi.

Biasanya orang yang bergerak itu adalah orang-orang yang punya kepentingan yang sama. Pemimpin harus tau apa kepentingan orang-orang tersebut berada dalam organisasi itu sehingga pembagian tugasnya bisa disesuaikan dengan kepentingannya.

Oke, segitu materi yang pertama =)

Materi yang kedua adalah

Propaganda : generasi sinergis
Propaganda adalah bentuk komunikasi yang mempengaruhi perilaku suatu komunitas yang menguntungkan orang yang mengpropaganda.
Propaganda ini berbeda dengan publikasi. Kalau publikasi itu hanya sekedar memberi tahu.
Pemimpin itu, harus bisa mengpropaganda. Propaganda agar bisa menjadi satu pandangan dan satu tujuan.

Oke, semoga bermanfaat =D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jika aku dikasih 20 orang staff


Jika aku dikasih 20 orang staff? Gimana biar mereka loyal?
Huaaa aku bingung! Dan jujur aja, aku sebenarnya ga suka jadi ketua struktural, lebih suka jadi yang fungsional aja atau sebagai supporter (sesuai dengan tes personality juga) atau sebagai penyokong.

Tapi yah oke deh, kita coba aja, hhe
Kalau aku jadi ketua, hmmmmmmm.. pertama-tama, harus tau dulu kelebihan dan kekurangan keduapuluh orang tersebut sehingga nanti pembagian tugasnya bisa sesuai dengan kemampuan maisng-masing, trus agar bisa tahu juga apa yang harus dikembangkan dari orang tersebut dan bagaimana cara mengembangkannya.

Trus, MENDENGARKAN! Itu penting banget, tapi ga cuma sekadar mendengarkan aja, tapi juga mencermati apa yang dikatakannya, lalu sebisa mungkin memberi feedback. Lalu jika sedang berdiskusi, kita harus selalu bertanya bagaimana pendapatnya saat sedang memberi saran agar orang tersebut merasa dihargai, tapi ya bukan sekedar bertanya sebagai formalitas saja, tapi juga benar-benar mencermati apa yang dikatakannya.

 Lalu yang penting juga,kita harus menyayangi setiap anggota yang ada, agar semua benar-benar merasa dihargai. Dan kalau kita menyayangi satu sama lain dalam tim maka pekerjaan yang ada akan dikerjakan dengan tulus dan ikhlas, lalu akan ada perasaan senang jika kumpul karena nyaman berada dalam tim.

Lalu, dalam setiap pembagian tugas, ketua juga harus memastikan tiap-tiap anggota sudah mengerti akan tugasnya. Kita juga harus membuat setiap anggota tim mengerti mengapa mereka dibutuhkan di dalam tim. Tidak hanya itu, tiap anggota tim juga harus mengerti apa pentingnya tim tersebut bagi dirinya atau orang-orang yang ada diluar tim.
Kita juga harus memberikan teladan bagi anggota tim. Keterbukaan juga merupakan hal yang penting.

Oke deh, mungkin segini aja yang bisa aku share. Kalau menurutku sendiri, kenapa aku ga bisa jadi ketua struktural karena aku ini emosinya masih labil, belum bisa menahan emosi. Trus masih terlalu seksiisme, terlalu menjunjung seksi sendiri, haha.

Yah, semoga bermanfaat =)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perilaku Seksual Mahasiswa di Jatinangor


Oke, kali ini wacananya diambil dari penelitian, dari :

GAMBARAN PERILAKU SEKSUAL DENGAN ORIENTASI HETEROSEKSUAL
MAHASISWA KOS DI KECAMATAN JATINANGOR - SUMEDANG
Oleh: Wanti Mutiara, Maria Komariah, Karwati

Abstrak
Mahasiswa sebagai remaja akhir, memiliki tugas perkembangan dan fase perkembangan seksualnya yang mencorong mereka untuk menjalin relasi heteroseksual (seperti pacaran). Dalam menjalin relasi heteroseksual seorang individu memiliki kecenderungan untuk melakukan berbagai bentuk perilaku seksual. Disamping itu, ciri perilaku heteroseksual remaja masa kini yaitu sikap terhadap perilaku seks yang jauh lebih lunak dibanding remaja generasi sebelumnya , maka tak heran jika ancaman pola hidup seks bebas di kalangan mahasiswa berkembang semakin serius.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai perilaku seksual yang telah dilakukan mahasiswa kos di Jatinangor dengan pasangan lawan jenisnya. Penelitian ini menggunakan studi kuantitatif dengan purposive sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang disusun berdasarkan modifikasi konsep teori bentuk-bentuk perilaku seksual menurut Santrock(2003) dan Irawati (1999). Jumlah sampel yan digunakan sebanyak 100 orang. Adapun mahasiswa yang menjadi sampel penelitian adalah mahasiswa kos yang memenuhi syarat sebagai
berikut, berusia antara 18-24 tahun, sedang atau pernah menjalin relasi heteroseksual (pacaran), belum menikah, tinggal di tempat kos wilayah kecacatan Jatinangor.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100 orang yang menjadi subjek penelitian seluruhnya pernah melakukan perilaku seksual dalam bentuk tertentu. Dan dari 100 orang yang melakukan perilaku seksual terdapat 100% telah melakukan perilaku berpegangan tangan, 90% berpelukan, 82% necking, 56% meraba bagian tubuh yang sensitive, 52% petting, 33% oral seks, dan 34% sexsual intercourse.

Pendahuluan
Seorang individu yang memasuki masa kuliah umumnya berada pada tahapan remaja akhir, yaitu berusia 18 – 21 tahun. Menurut Zuryaty (2006) dalam kehidupan mahasiswa, umumnya mereka tinggal di tempat kos yang dekat dengan kampus. Hal ini menyebabkan mereka harus berpisah dengan orang tuanya. Perbedaan yang mencolok antara tinggal di rumah dan di tempat kos antara lain terletak pada pengawasan orang tua, karena di tempat kos, orang tua tidak dapat mengawasi anaknya secara langsung. Menurut Bronfenbrenner (1979;1989) dalam Santrock (2003) beberapa hal yang dapat menjadi faktor resiko terjadinya aktivitas seksual remaja adalah kurangnya pengawasan orang tua dan rendahnya pengawasan lingkungan. Dari hal tersebut maka mahasiswa
kos beresiko terhadap terjadinya berbagai bentuk aktivitas seksual. Sesuai karakteristik perkembangan seksualnya, mahasiswa umumnya sudah mengembangkannya perilaku seksual dalam bentuk relasi heteroseksual atau pacaran (Pangkahila dalam Soetjiningsih, 2004). Terbentuknya relasi heteroseksual pada mahasiswa juga dipengaruhi oleh tugas perkembangannya yaitu remaja mulai membentuk hubungan baru dengan lawan jenis (Hurlock, 1980). Sedangkan relasi heteroseksual sendiri dapat mendorong remaja untuk melakukan perilaku seksual (Hurlock, 1976).
”Adapun yang dimaksud perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis (heteroseksual) maupun dengan sesama jenis (homoseksual), dimana objek seksualnya bisa serupa orang lain, orang dalam khayalan, atau diri sendiri.” (Sarwono, 2004: 140)

Berdasarkan survey Pusat Studi Wanita Universitas Islam Indonesia (PSW-UII) Yogyakarta, jumlah remaja yang mengalami masalah kehidupan seks terutama di Yogyakarta terus bertambah, akibat pola hidup seks bebas. Karena pada kenyataannya pengaruh gaya seks bebas yang mereka terima jauh lebih kuat dari pada kontrol yang mereka terima maupun pembinaan secara keagamaan. Semakin longgarnya tingkat pengawasan dari pemilik kos maupun pihak orang tua sehingga makin banyak remaja yang terjebak ke dalam pola seks bebas karena berbagai pengaruh yang mereka terima baik dari teman, internet, dan pengaruh lingkungan secara umum. Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi, Nugraha (2006) di Jakarta mengungkapkan bahwa dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000 (wwww.solusisehat.net). Di Jakarta hasil penelitian yang dilakukan oleh Masngudin HMS (2004), bentuk kenakalan remaja yang berupa hubungan seks di luar nikah memiliki persentasi yang tinggi yaitu sebesar 73,3%. Sedangkan di Bandung, dari hasil polling yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) selama tahun 2000 – 2002 menyebutkan dari sekitar 1000 remaja peserta terdapat 44,8% mahasiswa dan remaja Kabupaten Bandung telah melakukan hubungan seks, hampir sebagian besar peserta tersebut berada di wilayah tempat kos mahasiswa yang kuliah di PTN dan PTS terbesar di Bandung. Dan sebanyak 51,5% peserta melakukan hubungan seks di tempat kos.Fenomena maraknya perilaku seksual di kalangan mahasiswa juga terjadi di wilayah
Jatinangor. Dalam diskusi interaktif bertema ”Mahasiswa, Seks, dan Perkawinan” dikampus Universitas Padjadjaran Jatinangor, Psikolog Suherman (2001) menduga telah terjadi praktek adegan ”biru” di ”asrama” atau tempat-tempat kos mahasiswa di kawasan Jatinangor. Beliau mengungkapkan bahwa masyarakat sekitar pemukiman mahasiswa di Jatinangor seringkali menemukan kondom bekas di selokan dan ada kemungkinan besar kondom tersebut bekas dipakai oleh mahasiswa yang melakukan seks bebas (Pikiran Rakyat, 2001). Selain fenomena di atas, terungkap juga kasus mahasiswa yang pesta seks bebas di sebuah tempat kos di daerah Jatinangor yang terdapat dalam keadaan tanpa busana yang melibatkan mahasiswa (Kompas, 2004). Berdasarkan fenomena tersebut, lokasi yang akan dijadikan tempat penelitian oleh peneliti yaitu kawasan Jatinangor kabupaten Sumedang.

Kawasan Jatinangor memang dikenal sebagai daerah pemukiman mahasiswa karena di situ terdapat empat kampus besar (Unpad, Ikopin, Unwim, dan IPDN) yang terletak di kecamatan Jatinangor kabupaten Sumedang. Berdasarkan data tahun 2008 yang diperoleh peneliti dari Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Sumedang, kecamatan Jatinangor memiliki 4 desa yaitu desa Cikeruh, desa Hegarmanah, desa Cibeusi, dan desa Sayang. Kecamatan Jatinangor juga memilki 200 tempat kos yang tersebar dalam setiap desanya. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada 20 orang mahasiswa kos, terdapat 12 orang tinggal di tempat kos khusus, 6 orang
tinggal di tempat kos campur, dan 2 orang tinggal di rumah kontrakan. Sebagai kawasan pendidikan maka kawasan Jatinangor banyak ditempati oleh mahasiswa kos. Mahasiswa tersebut berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, bahkan ada beberapa yang berasal dari luar negeri. Perbedaan latar belakang sosial dan budaya membuat mereka harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Begitu pula sebaliknya penduduk Jatinangor kepada pendatang. Sering kali akibat perbedaan latar belakang sosial budaya serta derasnya arus masuk para pendatang ditambah lagi perpindahan mahasiswa dari tempat kos satu ke tempat kos lain mengakibatkan hubungan yang harmonis antara penduduk dan masyarakat sulit dilakukan (Adimihardja, 1983 dalam Zuryaty, 2006). Menurut Otto Sukatno (2002) ketergantungan penduduk secara ekonomi juga membuat penduduk cenderung mengambil sikap pasrah. Maka jika terjadi penyimpangan nilai dan norma oleh mahasiswa, mereka segan untuk menegur. Sehingga kontrol sosial tidak dapat diterapkan dengan baik.

Dari uraian diatas, masalah seks dikalangan mahasiswa kos perlu mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak. Mengingat dampak yang dihasilkan akibat perilaku seksual cukup serius dan dapat berpengaruh pada kehidupan individu itu sendiri di masa datang. Disamping itu mahasiswa sebagai penerus bangsa nantinya, sungguh disayangkan jika mereka akan terjerumus dalam dunia pergaulan bebas. Maka kita perlu melakukan upaya pencegahan sedini mungkin terhadap perilaku seksual yang menjurus ke kehidupan seks bebas sehingga dibutuhkan partisipasi dalam bidang kesehatan,
termasuk keperawatan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oke, jadi kita sebagai mahasiswa yang bermartabat, pemuda yang berintelektual tinggi, apalagi kita mahasiswa kedokteran, ingat salah satu poin 7 star doctors, yaitu beriman dan bertakwa, sebagai warga Indonesia, dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, apa kita mau diam saja dengan hal ini terjadi di sekitar kita?

Hmmm..solusi yang bisa aku tawarkan adalah wajibnya program mentoring atau wajibnya kurikulum agama pada tiap-tiap fakultas yang ada atau di tiap Perguruan Tinggi, atau bahkan di semua jenjang pendidikan.

Lalu sebagai mahasiswa, kita harus memberikan penyuluhan dan edukasi dari kampus ke kampus tentang masalah seks bebas ini, yah minimal tentang STI yang dapat mereka dapatkan. Tapi kalau untuk perbuatan yang lainnya, aku jujur aja belum kepikiran juga dari sisi medis apa yang bisa diangkat.

Tapi itu sih yang paling penting, AGAMA! Lalu pengawasan dari kost-kostan yang ada. Harusnya ada peraturan dari pemerintah yang mendata jumlah kostan di jatinangor ada berapa, lalu diwajibkan adanya ibu Kost yang care. Tapi mungkin ini agak sulit ya.. yah harus sadar dari diri sendiri lah, AGAMA!

Oke, semoga bermanfaat =)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Feedback SCORE Preschool hari 1


28.11.2011
Feed back SCORE hari ini =)

Menurut aku, SCORE itu acarnay yang bagus banget! Bukan bermaksud gimana-gimana atau seksiisme atau gimana, sebagai anggota Kastil yang mempunyai tujuan mengakalkan (membuat berpikir, ga cuma sekedar tau)orang-orang terhadap berbagai macam isu, seneng aja rasanya ngeliat temen-temen di SCORE ngebahas tentang berbagai macam isu-isu di Indonesia lalu mikirin apa akar masalah dan bagaiman solusinya. Bahagia banget rasanyaaaa, ikut berpikir, ikut mencari solusi, berpikir tentang apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa terhadap isu-isu tersebut. Walaupun itu isu di bidangnya masing-masing, tapi ya tetep aja, oke banget, menumbuhkan rasa peka, kritis, dan pribadi solutif. Bagus, bagus, bagus! Seneng, seneng, seneng!

Semangaaaat buat semua peserta SCORE dan semua organel-organelnyaaa \(^^)/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS